Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Macam Macam Alif Dalam Bahasa Arab

Ilmu nahwu merupakan salah satu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari karena denganya, kita bisa mengetahui tata cara membaca kalam arab yang baik dan benar. Baik ketika kita membaca al-qur’an, hadist, maupun kitab kuning. Kita sudah tahu bahwasanya ada 2 fan ilmu gramatika bahasa arab yang sangat penting untuk dipelajari bagi pemula agar bisa membaca kitab kuning yakni ilmu Nahwu dan Sorrof. Atau bisa dikatakan kedua ilmu ini tidak dapat dipisahkan dan kedua ilmu ini dikenal dengan istilah ilmu alat (alat untuk membaca kalam arab).

Dalam ilmu nahwu terdapat banyak pembahasan terkait fungsi-fungsi lafad maupun huruf yang sering kita jumpai ketika membaca al-qur’an, hadist, maupun kitab kuning diantaranya seperti 7 fungsi huruf hamzah yang sudah kami jelaskan pada postingan sebelumnya. 

Pada kesempatan ini kami akan membahas lanjutan terkait fungsi-fungsi lafadz yang terdapat dalam bahasa Arab. Yakni tentang macam-macam alif dalam ilmu nahwu (bahasa arab) yang kami ambil didalam kitab al-Mu’jam al-Mufassol fi al-I’rab ialah sebagai berikut:

أقسام الألف

Macam-Macam Alif Dalam Ilmu Nahwu Berta Fungsinya

Dalam kitab al-Mu’jam al-Mufassol Fi al-I’rab dijelaskan bahwa alif memiliki beberapa kegunaan ialah sebagai berikut:

1. Dhomir muttasil mahal rofa’ adalah dhomir yang bersambung dengan kalimat fi’il mudhore’. Hukumnya mabni sukun serta menggunakan i’rab mahal rofa’ seperti contoh dibawah ini:

اَلْمُعَلِّمَانِ يُدَرِّبَانِ التَّلاَمِيْذَ

al-Muallimani : Menjadi mubtada’ dibaca rofa’ menggunakan alif karena isim tasniyah.

Yudarribaani : fi'il mudhori', dibaca rafa’ karena tidak adanya 'amil yang menasabkan dan menjazimkan,
tanda rofa' menggunakan tetapnya nun karena termasuk af'aalul khomsah.

Alif : dhomir muttasil, hukumnya mabni sukun, mahal rafa' karena sebagai fa’il.

Jumlah kalima "يُدَرِّبَانِ": mahal rafa' karena menjadi khobar dari اَلْمُعَلِّمَانِ

2. Sebagai tanda rofa’ pada isim tasniyah (musanna). Seperti contoh dibawah ini:

اَلْوَالِدَانِ يُقْطِفَانِ الْعِنَبَ

al-Walidani : Menjadi mubtada’ dibaca rofa’ menggunakan alif karena isim tasniyah.

Yuqtifaani : fi'il mudhori', dibaca rafa’ karena tidak adanya 'amil yang menasabkan dan menjazimkan, tanda rofa'nya menggunakan tetapnya nun karena termasuk af'aalul khomsah.

Alif : dhomir muttasil, hukumnya mabni sukun, mahal rafa' karena sebagai fa’il.

Jumlah kalimat "يُقْطِفَانِ": mahal rafa' karena menjadi khobar dari lafadz ألْوَالِدَانِ 

3. Sebagai tanda nasab asma'ussittah. Seperti contoh : شَاهَدْتُ اَبَاكَ

Abaaka : menjadi maful bih, dibaca nasob dan tanda nasobnya menggunkan alif dikarenakan berupa asma’us sittah.

Alif pada abbaka : adalah tanda nasab

4. Sebagai Huruf yang tidak bisa dii'robi. Ialah sebagai berikut:

  • Alif Isyba’ adalah huruf alif  yang befungsi untuk memenuni kalimat yang di fathah saat darurat syair, adapun alif ini juga disebut sebagai alif Itlaq. Seperti cuntoh syi’i dibawah ini:

وَنُكْرِمُ جَارَنَا مَا دَامَ فِيْنَا  ***  وَنُتْبِعُهُ الْكَرَامَةَ حَيْثُ مَالاَ

(مَالاَ): Fi’il madhi mabni ala fathah, alifnya dinamakan huruf Itlaq laa mahallalahu minal i’rab.

  • Badal dari nun taukid adalah alif yang befungsi sebagai ganti dari nun taukid. Sepeti contoh pada surat yusuf ayat 23: (وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ).

(وَلَيَكُونًا): Alif pada lafadz na (نًا) merupakan alif sebagai ganti dari nun taukid khofifah (ringan) yang sebenarnya bisa ditulis layakunan (لَيَكُوْنَنْ)

  • Alif fariqoh adalah alif yang berfungsi sebagai pembeda antara wawu jama’ yang bersambung dengan fi’il madhi seperti (جَلَسُوْا، شَرَبُوا),atau fi’il mudhore’ yang dibaca nashob seperti (لَنْ يَذْهَبُوا،), atau fi’il mudhore’ yang dibaca jazam seperti (لَمْ يدرسوا), atau fi’il ‘amar seperti (جَاهِدُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ) pembeda dengan wawu jama’ yang ada pada jama’ mudzakkar salim seperti (مُعَلِّمُو الْمَدْرَسَةِ), atau wawu pada asmaus sittah ketika tingka rofa’ seperti (أَبُوْكَ), atau wawu illat pada fi’il mudhore’ mu’tal akhir seperti (يَدْنُوْ), atau wawu yang terdapat pada lafadz (أُوْلُوْ) sekaligus menjadi mudhof seperti (جاء أولو الأمر).
  • Alif nudbah adalah ratapan atau keluhan maksudnya memanggil seseorang atau sesuatu yang ditangisi karena merasa kehilangan seperti contoh:

وَا زَيْدَاه (ooh zaid)

وَا ظَهْرَاه (ooh punggungku!)

 Alif pada lafadz وَا itu dinamakan alif nudbah.

  •  Alif pada nida’ adalah alif pada sesuatu yang dipanggil. Seperti contoh: يا أبتا

يا أبتا : adapun alif yang terletak pada lafadz أبتا disebut alif nida’

  • Terdapat pada isim muanats serta disebut alim ta'nist maqshuroh atau mamduudah. Seperti contoh:صَحْرَاءُ، لَيْلىَ  
  • Berada setelah kalimat isim yang ditanwin dan dibaca nasob. Seperti contoh: شَاهَدْتُ سَمْيرًا

Refrensi

  • al-Mu'jam al-Mufasshol Fi al-I’rab Hal. 8

)الألف(

تأتي :

١ ـ ضميرا للرّفع، نحو : «المعلّمان يدرّبان التلاميذ» «يدرّبان» : فعل مضارع مرفوع بثبوت النون لأنّه من الأفعال الخمسة، والألف : ضمير متّصل مبنيّ على السكون في محلّ رفع فاعل.

٢ ـ علامة للرّفع في المثنّى، نحو : «الولدان يقطفان العنب». «الولدان» : مبتدأ مرفوع ، وعلامة رفعه الألف لأنّه مثنّى.

٣ ـ علامة للنّصب في الأسماء الستّة، نحو : «شاهدت أباك» «أباك» : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الألف لأنّه من الأسماء الستّة.

٤ ـ حرفا لا يعرب، وذلك :

أ ـ في الاسم المنوّن المنصوب، نحو : «شاهدت سميرا».

ب ـ لإشباع حرف الرويّ المفتوح، وتسمّى ألف الإطلاق، نحو قول الشاعر :

ونكرم جارنا ما دام فينا          # ونتبعه الكرامة حيث مالا

)مالا(: «مال» : فعل ماض مبنيّ على الفتح ، والألف حرف إطلاق لا محلّ له من الإعراب.

ج ـ بدلا من نون التوكيد، نحو قوله تعالى : (وَلَيَكُوناً مِنَ الصَّاغِرِينَ)، فألف «ليكونا» بدل من نون التوكيد الخفيفة )ليكونَنْ(

ح ـ لتفريق واو الجماعة المتّصلة بالفعل الماضي، نحو : «جلسوا، شربوا»، أو المضارع المنصوب، نحو : «لن يذهبوا»، أو المضارع المجزوم، نحو : «لم يدرسوا» أو الأمر، نحو : «جاهدوا في سبيل الله» عن واو جمع المذكّر السّالم، نحو «معلمو المدرسة» وعن واو الأسماء الستّة المرفوعة وعن واو العلة في المضارع المعتل الآخر ، نحو «يدنو» وعن واو «أولو» المضافه، نحو : )جاء أولو الأمر(

د ـ في النّدبة، نحو : «وا زيداه»، )الألف في : زيداه(

ر ـ في النّداء، نحو : «يا أبتا»، (الألف في : أبتا(