Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pelajaran Dari Kisah Seorang Ahli Ibadah Yang Tidak Bernilai Apa Apa

Terdapat sebuah keterangan dalam kitab مُكَاشَفَةُ الْقُلُوْبِ karyanya imam al-Ghazali tentang  amal ibadahnya seseorang yang tidak bernilai apa apa. Seperti apa kisahnya? silahkan baca selengkapnya dibawah ini:

Kisah Seorang Ahi Ibadah yang Sangat Rugi

Diceritakan bahwa ada seorang ahli ibadah yang bernama Abu Hasyim yang sangat intens sekali sholat tahajjudnya. Hampir puluhan tahun ia tidak pernah absen dalam menunaikan sholat tahajud. Hingga pada suatu ketika saat ia hendak mengambil wudhu' untuk sholat tahajjud, Abu Hasyim dikagetkan oleh keberadaan sosok yang duduk diatas sisi sumurnya. Kemudian Abu Hasyim bertanya, "wahai hamba Allah, siapakah engkau?" Tanya Abu Hasyim.

Dengan santainya sambil tersenyum, sosok itu berkata: "Saya Malaikat utusan Allah", Lalu Abu Hasyim takjub sekaligus bangga karena kadatangan tamu Malaikat yang mulia, dan ia berkata padanya "Apa yang sedang engkau lakukan di sini wahai Malaikat?" Lalu Malaikat itupun menjawab, "Saya disuruh mencari hamba yang mencintai Allah", melihat Malaikat itu sambil membawa kitab tebal, lalu Abu Hasyim bertanya: "Kitab apakah yang engkau bawa wahai Malaikat?" Malaikat pun menjawab: "Kitab ini adalah kumpulan nama-nama hamba yang mencintai Allah." Mendengan Jawaban Malaikat, Abu Hasyim berharap dalam hatinya terdapat namanya didalam kitab tersebut.

Baca Juga: Ilmu Tidak Bisa Ditukar Dengan Harta

Kemudian Malaikat itupun ditanya, "Wahai Malaikat, adakah nama-Ku dalam kitab itu?" Abu Hasyim beranggapan bahwa namanya ada di dalam kitab itu, mengingat amal ibadahnya yang tidak pernah putus selama bertahun-tahun. Dan Ia selalu menunaikan sholat tahajjud setiap malam, berdoa dan bermunajat kepada sang ilahi rabbi (Allah). "Baiklah, Saya  buka", jawab malaikat sambil membuka kitab besarnya. 

Dan ternyata setelah dibuka, Malaikat itu tidak menemukan nama Abu Hasyim di dalamanya. Karena tidak percaya, akhirnya Abu bin Hasyim meminta Malaikat untuk mencarinya sekali lagi. "Benar....namaMu tidak ada dalam buku ini!" kata Malaikat. Akhirnya Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur didepan Malaikat. Ia menangis seraya berkata "Sungguh sangat rugi sekali diriku yang setiap malam menunaikan sholat tahajjud dan bermunajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba yang mencintai Allah", ratapnya.

Memandang itu, Malaikat pun berkata, "Wahai Abu bin Hasyim!, bukan saya tidak tahu bahwa engkau yang selalu bangun untuk menunaikan sholat malam disaat yang lain tidur, mengambi air wudhu dan kedinginan disaat orang lain terlelap dalam sandungan malam. Tapi tangan tangan-KU yang dilarang oleh Allah untuk menulis nama-Mu." "Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?" tanya Abu bin Hasyim. Malaikat menjawab, "Engkau memang ahli ibadah dan bermunajat kepad Allah tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan sibuk memikirkan diri sendiri sehingga banyak orang orang disekitarmu sakit, lapar dan kesusahan namun tidak engkau lihat dan ulurkan tanganmu padanya. 

Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba yang mencintai Allah, jikau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hambanya yang telah diciptakannya?" kata Malaikat itu, kemudian Abu bin Hasyim bagaikan disambar petir. Ia tersadar bahwa hubungan ibadah sesorang bukanlan hanya kepada Allah semata (حَبْلٌ مِنَ اللَّهِ ), tetap juga kesesama manusia (حَبْلٌ مِنَ اللَّهِ) dan alam (حَبْلٌ مِنَ الْعَالَم).

Kesimpulan

Janganlah bangga dengan ibadah yang telah kita kerjakan, seperti sholat, puasa dan dzikir karena itu semua belum tentu membuat Allah senang. disamping itu, kita tidak boleh hanya fokus pada hubungan dengan Allah semata akan tetapi juga memperhatikan hubungan antar sesama manusia. 

Posting Komentar untuk "Pelajaran Dari Kisah Seorang Ahli Ibadah Yang Tidak Bernilai Apa Apa"