Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

9 Macam Huruf Wawu dalam Bahasa Arab

Ngaji Salafy | Dalam bahasa arab huruf wawu (و) merupakan salah satu huruf hijaiyyah. Huruf ini memiliki peranan penting terhadap suatu kalam arab dan sering kita jumpai tatkala membaca ayat al-Quran, al-Hadis, kitab kuning dan lain lain sebagainya. Oleh karena itu, kami akan mengupas secara tuntas 9 macam-macam kegunaan huruf wawu beserta contohnya.

Keterangan ini kami ambil dalam kitab Qawaidul I'rab yang menyatakan bahwa huruf wawu memiliki beberapa kegunaan sebagaimana syair nadhom dibawah ini:

وَالْوَاوُ لِلْعَطْفِ وَلِلْحَالِ نَفَعْ    وَاجْرُرْ بِهَا وَزِدْ كَرُبَّ وَكَمَعْ

Artinya: "huruf wawu itu digunakan untuk athof, hal, denganya (pula) jarkanlah, tambahkan (ziyadah), dan seperti lafadz رُبَّ dan مَعَ."

9 Macam Huruf Wawu dalam Bahasa Arab  

1. Wawu Athof (واو العاطف)

Wawu ini memiliki arti Muthlaqul Jam'i yakni untuk menghubungkan suatu kata sebelumnya dengan kata setelahnya dalam satu hukum. Huruf ini bermakna (dan), seperti:

جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرُو
(Zaid dan Umar telah datang)

2. Wawu Hal (واو الحال)
Wawu ini menunjukan arti keadaan atau bermakna sedang. Disebut dengan wawu hal apabila masuk pada jumlah ismiyyah maupun jumlah fi'liyyah yang sekaligus menjadi hal.
Contoh:
جَاءَ زَيْدٌ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ
(Zaid telah datang sedang matahari telah terbit)

Wawu tersebut menurut Ibnu Hisyam disebut wawu ibtida' karena masuk pada lafadz mubtada', sedangkan Imam Sibaweh dan Ulama' Salaf  mengira-ngirakan wawu hal yang berada pada jumlah ismiyah dengan اذا, bukannya mereka mengatakan bahwa wawu hal itu bermakna اذا, tapi wawu hal dan lafadz setelahnya menjadi Qoyid pada jumlah sebelumnya sebagaimana memiliki hukum seperti itu, dan imam Sibaweh dan Ulama' terdahulu tidak mengira-ngirakan dengan lafadz اذا, karena lafadz اذا tidak masuk pada jumlah Ismiyyah maupun jumlah fi'liyyah.
Contoh:
جَاءَ زَيْدٌ وَطَلَعَتْ الشَّمْسُ
(Zaid telah datang sedang matahari telah terbit)

3.  Wawu Qosam (واو القسم)
Yaitu wawu yang menunjukkan arti sumpah dan mengejerkan pada kalimat isim yang terletak setelahnya. Adapun isim yang dijerkan itu harus berupa isim dhohir.
Contoh: 
وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا 
(Demi Allah! tentu benar-benar aku akan berbuat begini)

وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيْمِ
(Demi al-Qur'an yang penuh hikmah)

وَالْعَصْرِ
(Dan demi masa)

Keterangan Penting:
Apabila sesudah wawu qosam itu terdapat huruf wawu lagi maka wawu yang kedua disebut dengan wawu huruf athof.
Contoh: 
وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنَ     
(Demi tin dan zaitun).

Pada contoh tersebut wawu yang kedua berupa huruf Athof bukan huruf Qosam, dikarenakan apabila tidak berupa huruf athof maka masing-masing dari keduanya akan membutuhkan adanya jawab.
Adapun huruf wawu digunakan sebagai huruf qosam, jika memenuhi 3 syarat ialah sebagai berikut:
  • Membuang fi'il qosam
          Hal ini dikarenakan banyak berlaku, bahkan melebihi ba' qosam yang merupakan asal.
Contoh:
وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا
(Demi Allah! tentu benar-benar aku akan berbuat begini)

Tidak boleh diucapkan:
 أَقْسَمَ وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا 
  • Tidak digunakan untuk qosam al-su'al (sumpah untuk meminta).
maka tidak boleh diucapkan:
وَاللهِ أَخْبَرَنِي
(Demi Allah berilah saya khabar)
  • Tidak masuk pada isim Dhomir.

4.  Wawu Zaidah (واو الزائدة)
Yaitu huruf wawu berfungsi sebagai tambahan (zaaidah) dengan kata lain huruf ini tidak memiliki arti.
Contoh:
حَتَّى اِذَا جَاؤُوْهَا وَفَتَحَتْ أَبْوَابَهَا
(Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka)

Wawu pada lafadz وَفَتَحَتْ berlaku huruf sebagai tambahan (zaidah) yang tidak memiliki arti.

5. Wawu Rubba (واو رب)
Yaitu wawu yang mana isim yang terletak setelahnya dijerkan oleh رُبَّ yang terbuang, atau dengan kata lain telah terjadi pembuangan lafadz رُبَّ setelah wawu sedang pengamalannya tetap berlaku yakni mengejerkan lafadz setelahnya. Dan wawu rubba ini harus masuk pada isim nakiroh  dan ta'alluqnya harus dibelakang (berada di akhir).
Contoh:
وليل كموج البحر ارخى سدوله علي بأنواع الهموم ليبتلي
(Banyak sekali malam seperti ombak laut yang menuntaikan selambunya kepadaku, dengan bermacam-macam kesusahan supaya mencobaku)

Perbedaan beberapa ulama terkait isim yang dijarkan oleh wawu rubba. ialah sebagai berikut:
  • Menurut Ulama' Basrah termasuk Ibnu Hisyam, yang merupakan pendapat yang shohih (benar) yaitu wawunya berupa huruf Athof sedang yang mengejerkan adalah lafadz رُبَّ yang terbuang.
  • Menurut Ulama' Kufah dan juga Imam Mubarrod bahwa wawu rubba dapat mengejerkan.
6.  Wawu Ma'iyyah
Yaitu wawu yang memiliki makna مَعَ (bersama), dan huruf wawu ini berfungsi menashobkan kalimat isim atau kalimat fi'il yang terletak sesudahnya. Disebutkan wawu ma'iyyah karena untuk menjelaskan sesuatu yang bersamaan dengan pekerjaan (menyertai suatu pekerjaan).
Contoh:
جَاءَ الْأَمِيْرُ وَالْجَيْشَ
(Raja itu telah datang bersama tentaranya)

Dalam contoh diatas lafadz والجيش menurut imam al-Jurjani yang menashobkan adalah wawu ma'iyyah, akan tetapi menurut pendapat yang shohih diantaranya imam Ibnu Malik yang menashobkan adalah fi'il atau shebih fi'il yang terletak sebelumnya.

Adapun syarat-syarat lafadz yang berada setelah wawu ma'iyyah terbaca nashob ada tiga, yakni:
  • Lafadz yang terletak setelah wawu ma'iyyah merupakan fudlah (tambahan kalimat), bukan 'umdah (pokok kalimat).
  • Lafadz sebelumnya berupa jumlah
  • Wawu yang digunakan memiliki makna مع
Pembagian Wawu Ma'iyyah
Wawu ma'iyyah dibagi menjadi dua ialah sebagai berikut:
  1. Wawunya maf'ul ma'ah
Contoh:
جَاءَ الْأَمِيْرُ وَالْجَيْشَ
(Raja itu telah datang bersama tentaranya)

      2. Wawu yang masuk pada fi'il mudhori' yang terbaca nashob karena diathofkan pada isim shorih (yang jelas).
Seperti kata penyair:
ولبس عباءة وتقر عيني أحب الي من لبس الشفوف
(Memakai baju gamis yang tebal serta hatiku gembira, itu lebih aku sukai dari pada memakai baju gamis yang tipis)

Lafadz تقر diathofkan pada lafadz لبس

Atau karena jatuh setelah Nafi atau Tholab,

Contoh:
ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين
(Padahal belum nyata bagi Allah Swt orang-orang berjihad diantara kalian serta belum nyata orang-prang yang sabar)
Lafadz ويعلم jatuh setelah Nafi.

Dan juga seperti contoh:
لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم
(Janganlah kamu melarang suatu perbuatan padahal kamu melakukan hal yang serupa, amatlah besar aibmu bila kamu melakukan itu)
Lafadz وتأتي berada setelah kalam Tholab.

Keterangan Penting:
Sebenarnya lafadz-lafadz yang terletak setelah wawu itu memiliki tiga hukum ialah sebagai berikut:
  • Wajib dibaca Nashob (dijadikan wawu ma'iyyah)
Contoh:
وستوا الماء والخشبة 
(Air itu naik beserta dengan ukurannya)
Pada contoh tersebut bahwa lafadz الخشبة harus dibaca nashob karena jika dibaca rofa' yakni di athofkan maka dapat merusak makna.
  • Lebih utama dibaca nashob (sebagai wawu ma'iyyah) dari pada dijadikan wawu athof.
Contoh:
 سرت وزيدا
 (Saya berjalan bersama Zaid)
 Pada contoh tersebut lafadz زيدا lebih utama dibaca nashob karena lemahnya pengathofan                 terhadap isim dhomir muttashil mahal rofa' tanpa ada sesuatu yang memisahkan keduanya.
  • Lebih utama dijadikan wawu athof  dari pada dibaca nashob sebagai wawu ma'iyyah.
Contoh:
جاء زيد وعمرو 
(Zaid dan Amr telah datang)
Pada contoh tersebut lafadz وعمرو lebih utama dibaca rofa' sebagai ma'thuf 'alaih karena                      merupakan hukum asal. 

Selain 6 macam diatas ada lagi macam macam wawu yang tidak disebutkan dalam nadhom Qawaidul I'ab, yakni tepatnya keterangan ini kami ambi di kitab al-Mu'jam al-Mufasshol Fi al-I'rab ialah sebagai berikut:

7.  Wawu Isti'nafiyyah (واو الاستئنافيّة)
Yaitu wawu yang jatuh setelah jumlah (ismiyah maupun fi'liyyah) dan tidak memiliki kaitan apapun pada lafadz sebelumnya baik dari segi i'rab maupun maknanya. Dan wawu ini juga dinamakan dengan wawu ibtida'iyyah (ﻭﺍﻭ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍئيّة) disebut dengan demikian karena ia berada diawal pembahasan kalam.
Contoh:
والكتاب لغة مصدر بمعنى الضم

8.  Wawu Dhomir (واو الضمير)
Yaitu wawu yang menunjukan arti dhomir (kata ganti) untuk jama' laki laki. Wawu ini bertempat pada tiga tempat ialah sebagai berikut:
  • Menjadi Fa'il, bila bersambung dengan kalimat fi'il yang mabni maklum (fa'il), seperti:  السيّاح يتجوّلون في المدينة 
  • Menjadi Na'ibul Fa'il, bila bersamaan dengan kalimat fi'il yang mabni majhul (maf'ul), seperti: العمّال يطردون من العمل
  • Bersamaan dengan fi'il madhi yang naqis, seperti: المصطافون كانوا يبتاعون اللوحات التذكاريّة
9.  Wawu Alamat Rofa' (الواو علامة الرفع)
Yaitu wawu yang berfungsi sebagai tanda (alamat) rofa'. Hal ini hanya berada pada 2 tempat:
  • Jama' Mudzakkar Salim, seperti: جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ
  • Asmaus Sittah, seperti: أَخُوْكَ مُجْتَهِدٌ 
Demikianlah 9 macam huruf wawu dalam bahasa arab yang kami ambil dari 2 kitab yakni Qawa'idul I'rab dan Mu'jam al-Mufasshol Fil I'rab Semoga bermanfaat. Wallahu 'a'lam


Posting Komentar untuk "9 Macam Huruf Wawu dalam Bahasa Arab"