Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah Alasan Ummu Sulaim Menolak Lamaran Abu Thalhah

NGAJISALAFY.com | Ummu Sulaim r.a adalah ibu dari Anas bin Malik, pelayan Rasulallah SAW. Suaminya bernama Malik bin Nadlr. Setelah agama Islam datang, Ummum Sulaim r.a masuk Islam bersama kaumnya. Dia pun berusaha memujuk suaminya untuk ikut masuk Islam namun, suaminya menolak dengan marah. Suatu hari suaminya pergi ke Syam (Syiriah) dan meninggal dunia disana.
 
Kemudian, datang Abu Thalhah r.a untuk meminang dirinya Ummu Sulaim r.a jawab dengan tegas bahwa ia tidak akan menikah dengan orang musyrik. Abu Tholhah pun mengiming - imingnya dengan emas dan perak, namun tetap saja Ummu Sulaim r.a tidak berminat. Ia menjawab dengan tegas: “Sesungguhnya aku menyaksikan pada mu dan menyaksikan pada Nabinya Allah SWT, bahwa sungguh jika engkau masuk Islam, beliau akan ridho dengan keislamanmu”.

Abu Thalhah r.a bertanya: “Siapa yang manuntunkan ku masuk Islam?” Ummu Sulaim r.a berkata pada Anas r.a: “Wahai Anas, berdiri dan pergilah bersamanya!” Anas r.a pun berdiri mengajak Abu Thalhah menemui Rasulallah SAW. Mereka berdua disambut baik oleh Rasulallah SAW. Bahkan beliau berkata: “Inilah Abu Thalhah, yang diantara kedua matanya ada kemuliaan Islam.” kemudian, Abu Thalhah r.a pun masuk Islam, dan selanjutnya dinikahkan dengan Ummu Sulaim r.a.

Mutiara Hikmah:
Ummu Sulaim, sosok wanita yang sholeha, wanita yang titak matre. Tawaran emas dan perak dari Abu Thalhah yang memang kaya itu tidak di hiraukan. Ia sadar betul masih banyak dalam kehidupan ini yang nilainya jauh lebih mahal dari sekedar emas perak. Akan tetapi, kesempatan itu tidak disia - siakannya untuk dijadikan sarananya berdakwa. Ia, berdakwa lewat pernikahan. Bukankah emang dianjurkan bahwa setiap kesempatan apapun harus diusahakan menjadi sarana dakwah kita? Termasuk liwat pernikahan. Maskipun mungkin keimanan Abu Thalhah saat itu belum begitu kuat, sebab tujuan menikah lebih dominan, namun hal itu tidak jadi permasalahan. Rasulallah SAW tetap menyambutnya dengan gembira, dan menuntunnya untuk mulai merasakan nikmatnya iman.

Dalam kehidupan ini memang semuanya harus berproses, suatu yang instan biasanya tidak akan awet, bahkan kualitasnya cendrung buruk. Demikian juga berdakwah, cara dakwa yang santun, secara bertahap, dari hati ke hati, pelan tapi pasti, akan jauh masuk kerenung hati yang terdalam, sehingga iman akan tertancap semakin kuat. Lain halnya jika dakwah dilakukan dengan ancaman, intimindasi dan kekerasan, maka jika kalau berhasilpun, maka tetap saja keimanan akan mudah goyah.

Mengapa demikian? karena bagaimanapun, orang yang kita dakwahi juga memiliki akal fikiran, bahkan terkadang kritis, tidakkah kita ingat saat Rasulallah SAW mengajak Abu Bakar r.a untuk beriman, apa jawaban Abu Bakar r.a? Ia tetap meminta bukti akan kerasulan beliau padahal, Abu Bakar r.a adalah teman karib beliau sejak muda, dan tahu benar akan kejujuran beliau. Kemudian, Rasulallah SAW pun menceritakan mimpi Abu Bakar r.a tentang kerasulan beliau. Mendengar bahwa Rasulallah SAW juga mengetahui mimpinya, padahal ia tidak pernah menceritakannya, maka ia pun bersedia beriman.