Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh Menurut Imam Madzhab

NGAJISALAFY.com - Niat puasa Ramadhan (صوم رمضان) selama sebulan penuh pada malam pertama hukumnya adalah disunnahkan. Namun, hukum niat untuk puasa pada hari berikutnya ulama berbeda pendapat (khilaf). Ada yang mengatakan harus berniat kembali dan ada yang mengatakan tidak harus berniat, dalam artian sudah cukup dengan niat yang pertama. Seperti apa uraian lengkapnya, silahkan simak penjelasan di bawah ini.

Hukum Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh Menurut Imam Madzhab

Madzhab Syafi'iyah

Menurut madzhab Syafi'iyah: "niat puasa untuk sebulan penuh itu cukup untuk puasa satu hari yang pertama, sehingga niat puasa Ramadhan pada hari berikutnya itu wajib diniati. Jika tidak diniati maka tidak sah puasa sebulan tersebut kecuali puasa Ramadhan di hari pertamanya saja."

Madzhab Malikiyyah

Menurut imam Malik: "niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib untuk berniat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam pertama bulan Ramadhan tersebut."

Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Kasyifatus Saja (كاشفة السجا) yang berbunyi:
فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام    كاشفة السجا ١١٧
"Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya (1 bulan full ) maka menurut madzhab Syafi'i tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malamnya. Tetapi menurut pendapat madzhab Maliki niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh Madzhab Hanafi. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampur adukan madzhab. Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah."


Menurut Syafi'iyyah niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa Ramadhan hukumya sunnah dan hanya mencukupi niat tersebut untuk malam pertama saja. Sedang bagi Malikiyyah dapat mencukupi pada malam-malam Ramadhan berikutnya selama sebulan bila kebetulan ia lupa menjalankan niat. Selain itu, terdapat keterangan lain yang berbunyi:

قَوْلُهُ : ( التَّبْيِيتُ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ
"(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam di bulan Ramadhan menurut kalangan kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah, hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari. Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffarat (denda pelanggaran) sebab berkali-kalinya senggama disiang hari disetiap hari-hari Ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja." (Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ).

Demikianlah penjelasan tentang hukum niat puasa Ramadhan sebulan penuh menurut imam Madzhab. Wallahu a'lam.