Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Fakir dan Miskin

Farkir (اَلْفَقِيْرُ) dan miskin (اَلْمِسْكِيْنُ) adalah orang yang membutuhkan, yaitu orang yang tidak memiliki apa-apa yang dibutuhkannya. spasi hapus hapus Jika diucapkan kata Fakir secara terpisah, maka termasuk didalamnya miskin Demikian pula sebaliknya jika digabungkan penyebutan keduanya dalam satu kalimat seperti dalam ayat tentang orang-orang yang berhak menerima zakat maka masing-masing memiliki makna yang berbeda. 

Menurut bahasa, farkir (اَلْفَقِيْرُ) adalah orang yang membutuhkan sedangkan miskin (اَلْمِسْكِيْنُ) adalah orang yang hina dan lemah.

Siapakah yang lebih membutuhkan?

Para ulama fuqoha' berbeda pendapat tentang siapakah diantara keduanya yang lebih membutuhkan. Menurut kalangan Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin. Mereka berargumen, Allah mendahulukan penyebutan Fakir pada ayat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa fakir lebih membutuhkan. Juga berdasarkan firman Allah ta'ala.

" Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut....." (QS. Al-Kahfi:79)

Mereka disifati dengan sifat miskin, Padahal mereka memiliki perahu dan mereka pun memperoleh penghasilan. Sementara itu, kalangan Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa orang miskin lebih membutuhkan daripada orang fakir. Mereka berdalil dengan firman Allah ta'ala,

"Atau orang miskin yang sangat Fakir." (QS. Al-Balad: 16).

Ia terjerembab ke tanah karena saya lapar. Alasan lainnya karena para ahli bahasa mengatakan demikian, diantaranya Al-Farra', Tsa'lab dan Ibnu Qutaibah. Ad-Dasuki menukil satu pendapat bahwa fakir dan miskin adalah satu golongan, yaitu orang yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya. Tidak dibedakan Apakah ia tidak memiliki sesuatu apapun ataukah Iya memiliki yang kurang dari kebutuhan pokoknya. 
Orang-orang miskin adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, memiliki kepandaian untuk mencukupi kebutuhannya, dan mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia. Pengertian ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

"orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan 2 suap makanan dan satu dua butir kurma." Para sahabat bertanya, " Ya Rasulullah, (kalau begitu) Siapa yang dimaksud orang miskin itu?" beliau menjawab, " Mereka adalah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, iki kepandaian untuk itu, kemudian dia diberi sedekah (zakat), mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
"bukanlah orang yang berharap agar diberi satu atau dua butir kurma dan sesuap atau dua suap makanan. Orang miskin itu adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya. Bacalah firman Allah jika kalian mau, '...... Dan mereka tidak meminta-minta secara paksa kepada orang lain....' (QS. Al-Baqarah: 273)"

Itulah orang miskin yang lebih kita utamakan untuk diberi zakat dan shadaqah, karena dari harta zakat dan shodaqoh itulah mereka dapat melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah ta'ala, serta dapat pula memenuhi kebutuhan dirinya, rumah tangganya, dan anak-anaknya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
&&&&&

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di
berkata, "Maksudnya, sudah selayaknya kalian mencari fakir miskin untuk kalian berikan sedekah kepadanya, mereka adalah orang-orang yang terhalang dirinya
dari melakukan jihad di jalan Allah
dan ketaatan kepada-Nya (karena miskin), dan mereka tidak memiliki (jalan untuk mewujudkan) kehendak mencari nafkah, atau malah mereka tidak memiliki kemampuan untuk bekerja, sedang mereka menahan/
menjaga diri dari meminta-minta, yang bila mereka dilihat oleh orang-orang bodoh, maka pastilah mereka akan menduga (menyangka) bahwa mereka orang kaya, karena mereka tidak minta-minta secara umum, dan bila mereka harus meminta, mereka meminta
karena sangat terpaksa, mereka tidak memaksa dalam memintanya. Inilah golongan dari fakir miskin yang lebih afdhal (utama) kalian memberikan infak untuk memenuhi kebutuhan mereka, membantu mereka kepada maksud dan tujuan mereka dan kepada jalan kebaikan, dan sebagai rasa syukur atas sifat sabar yang mereka miliki, serta (kuatnya) harapan mereka hanya kepada Allah Maha Pencipta, bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, berinfak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi semua kebutuhan di mana saja, maka semua itu adalah kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di sisi Allah.

Posting Komentar untuk "Pengertian Fakir dan Miskin"